Ketekunan yang tak pernah lelah, bukan di hari biasa saat kesibukan sekolah mendesak, melainkan di waktu istirahat yang sering kali dihabiskan orang untuk bersantai. Tepat pada setiap hari minggu, saat sebagian besar remaja menikmati waktu tidur lebih lama atau berlibur bersama keluarga, fatmah justru memilih untuk hadir dan berkarya.
Ia rutin melatih kemampuannya di sanggar seni yaitu di Kaluwuri Pangunraun Jatuh, tepat di Desa Paku Beto, Kecamatan Awang, sebuah tempat yang baginya bukan sekedar studio latihan melainkan rumah kedua yang menyimpan jutaan cerita perjuangan. Selain itu, ia juga aktif berlatih di lingkungan SMK yakni di SMKN Paku yang terletak di Kalimantan Tengah, Kabupaten Barito Timur, Kecamatan Paku tepatnya di Desa Tampa, namun jarak dan waktu bukanlah penghalang.
Setiap pukul sembilan pagi hingga menjelang siang hari, setiap akhir pekan, rutinitas ini berjalan konsisten bertahun-tahun lamanya. Di tempat dan waktu inilah, di bawah langit yang cerah, sebuah kisah perjuangan tengah di torehkan dengan penuh kesungguhan.
Namanya adalah Fatmah seorang pelajar biasa yang duduk di kelas XI, namun ada yang tidak biasa dari diri nya. Gadis yang tinggal di Desa Runggu Raya, Kecamatan Paku, Kabupaten Barito Timur ini menyimpan semangat yang luar biasa dan cita-cita setinggi langit di balik kesederhanaannya.
Ia bukan sekedar seorang penari, Ia adalah seorang pejuang, Ia adalah bukti nyata bahwa usia muda bukanlah halangan untuk melakukan hal-hal besar. Bagi Fatmah, menari bukan sekedar hobi atau kegiatan pengisi waktu luang saja, tetapi baginya tarian adalah napas, bahasa jiwa bahkan jalan yang dia pilih untuk mengukir namanya dan memberikan warna bagi negerinya. Ia tumbuh di tengah lingkungan yang kaya akan budaya, namun cara Ia memandang dunia adalah yang membedakan. Fatmah melihat seni bukan hanya sebagai keindahan mata, tetapi sebagai cermin kehidupan.
Seni tari yang ia geluti setiap hari minggu di sanggar Kaluwuri Pangunraun Jatuh, telah menjadi semacam “Pandai besi” yang menempa mentalnya menjadi baja. Melalui gerakan-gerakan yang ia pelajari, karakter-karakter mulia terbentuk satu per satu, disipin mulai tumbuh ketika ia harus bengun pagi dan tepat waktu di sanggar meskipun itu adalah hari libur.
Perjuangan Yang tak pernah berakhir bagi Fatmah yakni ia tetap percaya bahwa karakter yang kuat tidak lahir dari zona nyaman, karakter yang hebat dibentuk oleh pengorbanan, ketekunan, dan rasa ingin tahu yang besar. Ia ingin menjadi seseorang yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga kuat secara mental dan spiritual. Ia sadar bahwa bangsa ini membutuhkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, etos kerja, dan ketabahan batin yang luar biasa. Melalui tarian yang ia pelajari, setiap hari minggu di sanggar menunjukkan bahwa ia sedang mempersiapkan dirinya untuk itu.
“Saya ingin membuktikan bahwa mencintai budaya itu keren, dan berjuang itu wajib,” katanya suatu ketika dengan mata yang berbinar. Ia ingin menjadi inspirasi bagi teman-teman supaya sadar bahwa mereka memiliki potensi yang luar biasa. Ia ingin menunjukkan bahwa menjadi berbeda dan mencintai warisan leluhur adalah sesuatu yang membanggakan. Itulah alasan mengapa Fatmah tidak pernah merasa lelah, karena mimpinya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menginspirasi bangsa.
Menari menuntut konsenterasi penuh, satu detik saja melamun gerakan bisa salah, hitungan juga bisa lewat. Di ruang latihan yang terbatas itu, ia dilatih untuk tidak boleh melakukan salah sedikit pun. Hal ini dilakukan untuk melatih otaknya agar selalu fokus dan detail. Sifat ini terbawa hingga ke kehidupan sehari-hari dan pelajaran di sekolah, hingga membuatnya menjadi pelajar yang teliti dan tidak mudah gagal fokus.
Selama di sanggar Kaluwuri Pangunraun Jatuh, ia telah menekuni berbagai macam genre. Ia mempelajari tari kontemporer yang dinamis dan bebas. Ia juga mendalami tari kreasi baru yang menggabungkan unsur modern dan tradisional, serta melatih kreativitasnya. Tak ketinggalan, ia juga hafal akan gerakan-gerakan dalam tari pergaulan atau tari masal yang mengajarkan kerukunan. Namun, fondasi terkuatnya tetap berpijak pada tari tradisional dari Barito Timur yang sarat akan filosofi dan sejarah panjang. Ia menikmati setiap prosesnya, ia suka bagaimana setiap jenis tarian menuntut teknik dan ekspresi yang berbeda. Namun, di antara beberapa tarian yang ia pelajari di sanggar yakni tarian Dadas, Bawo, Giring-Giring dan tarian Bulat, ada satu jenis tarian khusus yang berhasil merebut hatinya yang membuatnya selalu rindu untuk kembali berlatih, yaitu tarian Dadas baginya tarian ini membuatnya lebih mudah dalam mempelajarinya serta mudah menguasai gerakannya. Ada sesuatu yang magis dan tak terjelaskan dalam tarian ini. Mungkin karena gerakannya yang lembut namun tegas, atau mungkin karena irama musiknya yang mampu menenagkan jiwa, atau filosofi di dalamnya yang begitu menyentuh hati.
Bagi Fatmah, tarian ini bukan sekedar rangkaian pola langkah, tarian ini adalah “jembatan” yang menghubungkan dengan akar budaya leluhur. Ketika musik pengiring tarian ini mulai berbunyi, entah itu suara gamelan, gendang, atau kanong yang membuat hatinya terasa lebih tanang, pikirannya lebih jernih dan semangatnya berkobar lebih keras. Inilah tarian yang pertama kali membuatnya sadar bahwa ingin menekuni dunia ini secara serius. Ketertarikannya pada tarian inilah yang kemudian membawanya mencintai tarian-tarian lainnya. Jadi, meskipun ia hebat dalam banyak hal, hatinya tetap pada satu tarian spesial ini yang menjadi inspirasi terbesarnya dan alasan utama mengapa ia rela bangun pagi setiap hari minggu.
Fatmah selalu tenang namun keluar dari bibirnya dengan penuh keyakinan yang tak pernah tergoyahkan. Ia menyukai seni budaya bukan tanpa alasan dan bukan juga karena ikut-ikutan tren, tetapi baginya seni budaya adalah identitas, nafas kehidupan serta pelestarian terhadap budaya sendiri. Seni budaya adalah cermin identitas dan jati diri, alasan pertama yang paling utama adalah rasa bangga terhadap budaya sendiri. Di tengah gempuran budaya asing yang masuk begitu deras melalui internet, media sosial, dan hiburan global, banyak remanja yang mulai lupa dari mana mereka berasal. Mereka lebih mengenal budaya luar daripada budaya sendiri.
Bagi Fatmah hal ini tidak boleh terjadi. “Saya adalah orang indonesia. Darah saya mengalir budaya nusantara, menari adalah cara saya menunjukkan rasa cinta itu kepada tanah air,” Katanya dengan mata berbinar. Baginya mengenakan kostum tradisional, menggerakkan tangan, mengikuti pola tari leluhur, adalah bentuk deklarasi diam bahwa ia bangga menjadi bagian dari bangsa ini. Seni budaya mengingatkan setiap saat bahwa ia memiliki akar yang kuat, sehingga ia tidak mudah terbawa arus yang menghapus jati dirinya. Setiap gerakan memiliki satu cerita dan sejarah, itulah alasan yang membuatnya jatuh hati pada tarian adalah kedalaman makna. Berbeda dengan gerakan bebas yang hanya mengutamakan keindahan visual, seni budaya, terutama tari tradisional yang memiliki cerita di balik setiap jengkal gerakan, karena satu kali anggukan kepala bisa berarti penghormatan, Satu kali lambaian tangan bisa berarti menyapa alam semesta, satu langkah kaki bisa bermakna perjalanan hidup. Ia merasa seperti sedang membaca buku sejarah yang hidup, ia belajar tentang kearifan lokal nenek moyang, cara bersyukur kepada Tuhan, cara mereka menghormati alam, dan cara mereka berinteraksi dengan sesama manusia.
Ia merasa menjadi pribadi yang lebih bijaksana karena memahami makna dibalik setiap gerakan, Ia tidak hanya menari dengan tubuh, tetapi juga menari dengan pikiran dan hati yang mengerti apa yang sedang ia lakukan. Sebagai seorang remaja yang hidup di era serba cepat dan penuh tekanan, baik dari tugas sekolah maupun lingkungan sosial, Fatmah mengakui bahwa ia sering merasa stres, lelah, bahkan gelisah. Namun, ada keajaiban yang terjadi ketika ia masuk ke dunia seni budaya, irama musik tradisional, aroma wewangian di sanggar dan ritme gerakan yang teratur memiliki efek menenangkan yang luar biasa.
Ketika ia mulai bergerak mengikuti alunan musik, semua pikiran rumit seakan hilang terbawa angin. Seni budaya menjadi pelarian yang positif, menjadi “obat” alami yang menyembuhkan lelah batin. Ia menemukan kedamaian di sini. Tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu berpura-pura, tempat di mana ia bisa berdialog dengan jiwanya sendiri.
Salah satu alasan lainnya yang kuat adalah keinginannya untuk merubah stigma serta membuktikan bahwa budaya itu “keren” dan modern. Banyak teman-temannya yang menganggap seni budaya itu kuno, kaku, dan hanya untuk orang tua, oleh karena itu Fatmah ingin mematahkan anggapan itu. Mencintai budaya adalah gaya hidup yang sangat keren dan penuh makna, ia ingin menunjukkan bahwa anak muda bisa tampil keren, percaya diri, dan berprestasi dengan cara mencintai warisan leluhur.
Ia ingin menjaga api tradisi serta menjadi bukti hidup bahwa modernisasi dan pelestarian budaya bisa berjalan beriringan. Generasi muda yang berkarakter adalah mereka yang tahu dari mana mereka berasal, sebelum melangkah ke mana mereka akan pergi.
Artikel ini dibuat oleh Gregoriana Siswa kelas XI Pada SMKN Paku dan menjadi juara 1 FLS3N tingkat Kabupaten Barito Timur
Khusnul Khotimah
Luaar biasa
Penti Natalia
Keren…luar biasa 🤩🤩🔥🔥
Fenny Hartani
Luar biasa gregoriana ..terus lah berjuang di tingkat provinsi🙏
Fajrin
Inspiratif…luat biasa
Ratih Purwasih
Luar biasa… Semoga menang di tingkat provinsi ♥️🤩🙏🏻
Diang Nila
Semangat 🙌🏻🔥
Burai Harta
Luar biasa, kerennn
H
Mantap… Semangat terus. Intinya jangan menyerah terus maju tanpa perduli hasil akhirnya bagaimana, tapi tampilkan apa yang kalian punya adek² ku. fokus, kerja keras, kreatif, komitmen… Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Kurang, salah perbaiki bukan jatuh dalam keterpurukan. Hasil yang terbaik bukan untuk orang yang berdiam diri. SMK bisa, SMK Paku hebat….🔥🔥🔥
Hedi Krismianto
Mantap… Semangat terus. Intinya jangan menyerah terus maju tanpa perduli hasil akhirnya bagaimana, tapi tampilkan apa yang kalian punya adek² ku. fokus, kerja keras, kreatif, komitmen… Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Kurang, salah perbaiki bukan jatuh dalam keterpurukan. Hasil yang terbaik bukan untuk orang yang berdiam diri. SMK bisa, SMK Paku hebat….🔥🔥🔥
Mariati
Luar Biasa,, semangat terus berkarya
Mariati
Hebat,, semangat terus berkarya,, semoga bisa menginspirasi siswa/siswi yang lain untuk terus menggali bakat-bakat yang dimiliki💪
iraini
mantap terus berjuang
Septiyuni
Luar biasa anak-anak SMKN Paku dengan banyaknya talenta, semangat selalu 💪💪💪